WIJEN TUMPUAN HIDUPKU SAAT INI

Desa Nagerawe, kisah sukses

Desa Nagerawe  adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Boawae kabupaten Nagekeo yang letaknya cukup terpencil dan jauh dari keramaian kota. Perjalanan dari kota kabupaten memakan waktu kurang lebih 2-3 jam. Namun perjalanan yang melelahkan tersebut terbayar lunas dengan pemandangan alam yang begitu indah. Dalam perjalanan kita akan melalui beberapa sungai yang berkelok-kelok serta bukit yang dihiasi dengan berbagai  pohon kayu lokal.  Setelah memasuki wilayah Nagerawe,  kita tercengang karena ditemui pemandangan kawasan padang yang luas sekali. Namun keindahan alam tersebut tidak didukung dengan iklim yang bersahabat. Curah hujan didesa Nagerawe sangat terbatas dan hasil panen tanaman pangan seperti padi ladang, jagung serta kacang-kacangan mengalami penurunan, bahkan ada petani yang menanam jagung 2-3 kali karena curah hujan yang sangat terbatas sehingga banyak jagung yang kering.

Untuk menghidupi keluarga maka berbagai upaya dilakukan oleh petani salah satunya adalah bapak Marsel Lila Anggota kelompok Bunga Baru. Bapak Marsel meceritakan apa yang dilakukan, begini pak “setelah saya melihat curah hujan yang tidak menentu tersebut, saya berpikir keras apa yang saya harus lakukan; setelah merenung sejenak saya teringat akan Wijen yang merupakan salah satu tanaman pangan lokal yang dibudidayakan oleh petani didesa Nagerawe secara turun temurun, sekitar 100 keluarga yang mengembangkan wijen di Nagerawe”.   Lebih lanjut bapak yang hampir berkepala enam ini mengatakan “Tanaman  semusim ini mudah tumbuh dan cukup tahan kekeringan serta sangat mudah dalam mengembangkannya sebab tidak membutuhkan perlakuan khusus jua tidak membutuhkan biaya  yang  besar baik pada saat perawatan sampai pada saat panen karena lama pengembangannya hanya 3,5 bulan” .

Sambil tersenyum suami dari mama Monika Eko ini menlanjutkan ceritanya “Tanaman ini biasanya saya dan petani lainya hanya kembangkan sebagai tanaman pelengkap  diantara padi, jagung  serta ubi-ubian dan biasanya di tanam pada  pinggiran kebun.  Sebelumnya hasil panen tanaman ini hanya digunakan untuk bahan pembuatan sambal  atau lombok yang akan dikonsumsi bersama  nasi atau jagung bose namun ada juga yang saya coba jual, setelah dicoba untuk menjualnya dipasar Boawae, ternyata wijen  juga laris dibeli oleh konsumen   untuk dijadikan bahan pembuatan  kue  dan bahan masakan lainnya  di tingkat rumah tangga  maupun di warung serta restoran”.

Lebih lanjut bapak dari empat anak ini mengatakan “mengingat pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya serta atas dorongan dari PL YMTM yang mendampingi kami serta terus memotivasi kami untuk mengembangkan pangan yang tahan terhadap kekeringan maka dengan tekat yang kuat saya bilang ini peluang bagi saya. sehingga  tapa ragu-ragu saya mengembangkan wijen dilahan seluas 0,25 ha”.  Sambil  menikmati kopi panas, bapak yang energik tersebut mengatakan “hasil panen tanaman pangan seperti padi ladang, jagung serta kacang-kacangan mengalami penurunan produksi,  tetapi  hasil panen tanaman wijennya  justru mengalami peningkatan sehingga hasil penjualannya bisa  menutupi  kegagalan dari hasil panen tanaman pangan lain yang ada dikebun. Hasil panen wijen tahun ini sebayak 250 kg Setelah dijual  seharga Rp 10.000 perkilogram, maka diperoleh pendapatan sebesar Rp. 2.500.000. uang tersebut saya manfaatkan sebagian untuk uang sekolah anak saya dan sebagian untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga wijen merupakan tumpuan hidup saya saat ini”.

Menurut bpk Marsel: “hal lain yang sangat menguntungkan dari menanam wijen adalah karena  tanaman ini  mudah dirawat, tidak dimakan oleh ternak serta tahan kekeringan. Di desa ini yang mengembangkan wijen dalam jumlah banyak hampir 10 orang  petani ”. Dengan melihat peluang yang ada, bapak Marsel Lila bertekat untuk terus mengembangkan wijen dikebunnya dengan luasan yang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan keluarganya.   Sukses!!!