Sapi Memposisikan Kami Setara Dengan Masyarakat Lain

Desa Fafinesu C - TTU

Pagi itu kami berjalan untuk menemui beberapa petani peternak yang sukses di Desa Fafinesu C. Ketika itu kami bertemu dengan Bapa Bertus yang sedang merawat ternak di dalam kandangnya.  Bapak Bertus yang cukup serius dalam bekerja menuturkan berbagai pengalaman yang dialami sebagai seorang peternak. Bapak Bertus mulai bercerita “Saya ini bekas seorang nara pidana ditahun 1995-1998.  Ini merupakan pengalaman paling sulit selama hidup saya. Setelah saya bebas dari tahanan saya bingung apa yang seharusnya dikerjakan karena sebelumnya saya telah meminang calon istri saya yang setia menunggu selama empat tahun hingga masa tahanan saya berakhir. Salah satu cara yang paling mudah adalah melibatkan diri dalam kelompok tani yang saat itu kegiatannya cukup berkembang.

Bersama istri, kami memulai hidup baru dengan menata lahan menggunakan teknik konservasi tanah yang merupakan peninggalan kedua orang tua.  Dengan kerja keras kami, dan dukungan kelompok, kebun menjadi berhasil dan dapat memproduksi pakan dalam jumlah dan jenis yang bervariasi.  Dengan demikian pada tahun 1999 keluarga  saya dipercaya oleh kelompok untuk memelihara dua ekor sapi.  Kedua ekor sapi tersebut dipelihara selama 2 tahun.  Pada saat pemasaran yang dilakukan secara bersama keluarga kami memperoleh keuntungan yang cukup besar sebanyak Rp. 1.560.00 dari dua ekor sapi yang kami pelihara.  Saat itu bila dibandingkan dengan memelihara sapi pengusaha dimana dengan pemberlakuan sistem sewa per ekor hanya Rp. 250.000.  Tentu perbedaan profit yang kami peroleh ini mencapai 200% per ekor sapi.

Dari hasil keuntungan yang diperoleh tersebut dalam suatu diskusi keluarga pada malam hari di saat itu kami memutuskan untuk membeli seekor sapi jantan dengan harga Rp. 850.000.  Sisanya menjadi modal persiapan menjelang kelahiran anak kami yang kedua.   Sapi tersebut kami pelihara secara intensif di dalam kandang lorong.  Karena pakan yang kami miliki cukup banyak dan bervariasi maka dalam waktu 18 bulan sapi tersebut siap untuk dijual.  Masa pemeliharaan yang lebih  singkat karena pakan yang diberikan kepada ternak berupa hijauan makanan ternak dan makanan penguat berupa ubi kayu dan sagu.  Kami akhirnya menjual sapi pertama yang kami miliki dengan harga Rp. 2.600.000 dari bobot badan 288 kg.

Bapak dari Feny dan Rofinus, kemudian melanjutkan penuturannya bahwa, ketika penjualan sapi pertama yang kami miliki, saya sebagai kepala keluarga merasa sangat kuat karena telah mendapatkan modal awal yang cukup untuk menempuh hidup selanjutnya.  Sebagai modal awal tentunya kami sekeluarga memprioritaskan untuk membeli kembali sapi satu ekor sebagai pengganti sapi yang telah dijual dengan harga Rp.  900.000, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli ternak kecil seperti kambing dan babi.  Dalam kurun waktu 18 bulan berikut sapi kedua dapat dijual dengan harga Rp.  3.100.000 dari bobot badan 326 kg.  Sementara itu ternak kecil berupa kambing dan babi terus berkembang.  Dari nilai penjualan sapi yang diperoleh kami membeli 1 ekor sapi seharga Rp. 1.000.000 dan Rp. 2.100.000 dipergunakan untuk pembuatan  rumah sehat dengan ukuran 6 x 7m2.

Pada tahun 2003 kami sekeluarga mendapat kepercayaan dari kelompok untuk memelihara 2 ekor sapi dengan sistem dana pinjaman bergulir yang dikembangkan YMTM.  Kedua ekor sapi tersebut dipelihara selama 20 bulan dengan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 3.117.400. Bapak Bertus yang bercerita sambil memegang bekas anflop usang pembungkus fee yang diterima saat itu, menjelaskan bahwa saya harus tunduk kepada adat istiadat yang yang dianut dan berlaku di dalam komunitas masyarakat dengan memenuhi kewajiban menyerahkan belis (mas kawin) kepada menantu.  Walaupun harus memenuhi kebutuhan adat tersebut  tetapi saya tetap berupaya menyisihkan sebagian keuntungan untuk membeli seekor  sapi lagi.

Suami dari Rensiana Leu kemudian menuturkan “ hasil keuntungan yang diperoleh selama memelihara sapi DPB telah menghantar keluarga kami menjadi peternak intensif di dalam desa. Tidak dapat terbayangkan sebelumnya, kalau saat ini kami bisa memiliki satu ekor sapi jantan siap dijual, 4 ekor sapi betina, 12 ekor kambing dan 12 ekor.  Semua ternak ini menjadi tumpuan harapan bagi keluarga saya selanjutnya.  Tidak hanya itu saja, dengan memelihara sapi yang didukung dari YMTM, keluarga kami bisa membuat rumah sehat, WC sehat sehingga kami merasa lebih setara dengan anggota masyarakat lainnya di dalam desa Fafinesu C.

Dalam cerita selanjutnya Bapak Bertus mengungkapkan satu prinsipnya yang sangat berbeda dengan anggota masyarakat lainnya.  “Saya tidak pernah mengharapkan dukungan berupa uang karena uang akan habis seketika tetapi yang terbayang dalam benak saya dukungan selain uang akan berkelanjutan”.  Melibatkan diri dalam organisasi kelompok tani telah membawa rejeki besar bagi keluarga melalui dukungan sapi dan pengetahun yang penting bagi hidup saya. Saat ini saya bersama anggota keluarga boleh berbangga karena selain hasil kebun dan ternak yang kami miliki kami boleh tinggal lebih layak di dalam rumah yang sehat.  Pada saat yang bersamaan Mama Rensiana menuturkan bahwa, ternak yang kami miliki saat ini menjadi tabungan bagi pendidikan anak-anak dimasa yang akan datang.

Pemeliharaan ternak secara intensif di dalam kandang lorong akan terus kami kembangkan sambil mencari teknik untuk mempercepat penambahan bobot badan sehingga masa pemeliharaan menjadi lebih singkat.