Menciptakan Bank Sendiri Di Kebun

Desa Renrua - Belu

Nama saya Dominikus Seran, saya sudah berkeluarga dan mempunyai 3 orang anak. Sekarang saya berusia 35 tahun. Bapak Dominikus Seran adalah salah satu anggota kelompok tani dampingan YMTM di desa Renrua. Di tahun 2014 ini ia mulai bergabung dalam kelompok tani dampingan YMTM dan sebelumnya tidak bergabung dalam kelompok. Bapak Domi Seran tertarik dengan kelompok karena merasakan beban kerja yang berat menjadi ringan, juga ada informasi baru tentang pertanian dari PL YMTM.

Bapak Domi Seran, bapak 3 anak ini adalah sosok yang lebih menyukai tanaman sayur yang berorientasi pasar seperti Lombok dan tomat. Menurutnya untuk usaha sayur lebih cepat mendatangkan uang. Oleh karena itu sebelum terlibat dalam kelompok dampingan YMTM, ia sudah menanam sayur tetapi menerapkan teknologi tradisional atau tanam tugal. Sekarang ia sangat senang karena menanam sayur dengan teknologi olah lubang. Tanaman lombok yang pernah ditanam sebelum dampingan YMTM tahun 2012 sebanyak 1.700 pohon berupa Lombok putih dan hasil panennya sebanyak 1.500 kg di jual dengan harga per kg Rp.17.500. Dari hasil ini saya mendapat uang sekitar Rp 26.000.000. Dari uang ini ia dapat membeli 1 unit motor air, batu cetak untuk persiapan bangun rumah dan sisanya untuk beli makanan. Dan di tahun 2013 saya tanam lagi Lombok 8.000 pohon tetapi karena tidak ada pendampingan dari petugas teknis maka dari 8.000 pohon buahnya banyak yang rusak karena penyakit busuk buah sehingga ia hanya mendapat hasil 360 kg dengan harga per kg di bulan juli-september berkisar Rp 20.000. – Rp 25.000 sehingga dari 360 kg mendapat uang Rp 8.100.000. “Dan dari hasil ini tidak dapat membiayai kehidupan keluarga saya karena kami tidak punya cadangan makanan, harapan satu-satunya hanya ada pada Lombok. Akhirnya, saya berpikir untuk pergi merantau ke Malaysia. Dua hari sebelum saya berangkat ke Malaysia, saya bertemu dengan ibu PL YMTM dan mulai berdiskusi tentang kebun. Dari diskusi itu saya mulai merasa tertarik dengan program ini dan mulai membentuk 1 kelompok dan langsung mulai dengan kerja”. Cerita Bapak Domi mengenang awal berkelompok.

Tahun 2014 berkat dampingan PL YMTM dikembangkan tomat 2.500 pohon  di bulan Oktober walaupun bulan kering air di wilayah Timor umumnya. Walaupun susah air tetap ada usaha keras untuk merawat tanaman tomat sangat susah tetapi saya berusaha dan terus berusaha karena pada bulan Januari – April harga tomat bisa mencapai Rp 80.000. perember. Hasil prediksi yang sementara direncanakan saat panen tomat sebagai berikut : tomat yang ditanam 2.500 pohon, akan panen 2 kali dalam satu minggu. Sekali  panen 20 ember di kalikan dengan Rp 80.000 akan mendapatan 1.600.000. Dalam satu minggu bisa mendapat uang sebanyak Rp 3.200.000. Jadi dalam 1 bulan jual 4 kali dengan prediksi penjualan Rp 51.200.000. Penjualan ini akan dikurangi dengan biaya pengeluaran sebesar Rp 4.560.000, maka pendapatan bersih Rp.46.640.000. Perhitungan ini dilakukan sesuai usaha tomat selama ini.

“Sekarang saya sangat senang bahwa dengan adanya dampingan YMTM, saya petani yang awalnya tidak pernah tahu akan perkembangan harga di pasar sekarang saya sudah bisa membaca peluang pasar, bisa menghitung bagaimana usaha yang saya kembangkan untung atau rugi. Selain itu saya mendapat pengalaman teknis yang baik dalam pengembangan tanaman tomat sehingga pada akhirnya saya mengurungkan niat untuk pergi ke Malaysia. Saya sadar sebenarnya yang sedang saya cari “uang” dan uang itu sedang saya tanam di kebun. Untuk itu teman-teman petani, mari kita  kelola uang yang ada di kebun kita masing-masing dengan mengembangkan tomat di musim hujan karena dengan kita mengembangkan tomat di musim hujan, uang yang kita panen akan semakin banyak.“