Divabel Yang Kreatif

Desa Pagomogo, Nagekeo – Flores

Desa Pagomogo, Nagekeo – Flores adalah sebuah desa yang cukup rentan terhadap kekeringan namun masyarakat desa tersebut bermata pencahariannya petani dengan tingkat pendapatanya rendah.  Adalah sebuah keluarga yang sangat rentan di desa tersebut antara lain yang di alami oleh Bapak Viktor Mare. Bapak yang berumur 50 an ini mempunyai 6 orang anak, namun ada dua orang anak perempuannya mengalami cacat fisik (divabel).

Yanti Mare yang divabel tersebut adalah Putri sulung dari bapak Viktor yang sekarang berusia 32 tahun merupakan salah satu tumpuan dan harapan keluarga. Yanti mempunyai keahlian dalam kerajinan tangan seperti membuat tas adat Nagekeo (Bere), Sebelum pendampingan oleh YMTM kegiatan yang di lakukan oleh Yanti ini biasa-biasa saja dan pekerjaan tersebut hanya untuk mengisi waktu luang saja.

Yayasan Mitra Tani Mandiri Flores melakukan pendampingan di Desa Pagomogo yang bukan saja mendampingi pengembangan kebun untuk ketahanan pangan, Penguatan institusi organisasi petani tetapi  juga pengembangan ekonomi keluarga.

Sejak bulan April 2015 lalu staf lapangan YMTMF mulai memfasilitasi  Nona Yanti mengembangkan anyaman bere tersebut untuk diperjual belikan dalam skala yang lebih besar. Sampai dengan bulan Agustus 2015 sudah menghasilkan sebanyak 48 buah bere dengan harga jual Rp.100.000 per buah sehingga uang yang sudah dihasilkan sebesar Rp. 4.800.000,-. Modal yang digunakan untuk pembelian bahan baku sebesar Rp.1.000.000. Dari modal pembelian bahan baku tersebut bisa menghasilkan Bere sebanyak 100 buah sehingga kalau dihitung secara ekonomis maka memperoleh pendapatan sebesar Rp. 9 juta tidak terhitung tenaga kerja (pendapatan kotor). Modal 1 juta tersebut diperoleh dari pinjaman dana UBSP Dasawisma RT 09 Malabata yang beranggotakan 9 orang dengan modal sekitar dua belasan juta.  Dengan adanya dana yang diperoleh dari kelompok tersebut dapat membantu keluarga tersebut dari kekurangan modal usaha. Staf YMTM selalu memotivasi kelompok UBSP untuk memberikan pinjaman diutamakan bagi anggota yang memanfaatkan uang untuk usaha produktif.

Menurut Bapak Viktor, uang hasil penjualan bere tersebut digunakan untuk biaya kuliah adiknya di Universitas Nusa Cendana di Bajawa semester V, seorang lagi adik putranya di STM Sanjaya Bajawa, seorang SMP,  tiga adik SD  dan juga untuk kebutuhan keluarga serta berterimakasih  juga  kepada kelompok yang telah memberikan pinjaman bagi keluarganya. Lebih lanjut bapak yang energik tersebut mengatakan walapun anaknya divabel namun menjadi tulangpunggung keluarga.

Dalam kesempatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Nagekeo yang berlangsung di Desa Dhereisa Kecamatan Boawae selain pameran pangan/makanan lokal juga di pajang  kerajinan lokal seperti “ bere” di stand Desa Pagomogo  yang merupakan potensi kerajinan lokal yang bisa membantu  pendapatan bagi keluarga yang menghasilkan anyaman termasuk hasil anyaman nona Yanti. Ini sebuah promosi awal bagi hasil anyaman yang berasal dari seorang putri yang berpredikat divabel (Nn Yanti:red). Mudah-mudahan kerajinan ini menjadi sebuah fokus kegiatan bagi pihak yang berkepentingan baik Dinas/lembaga yang berhubungan dengan kegiatan di maksud. Akhirnya kita harus banyak belajar dari nona Yanti yang walaupun divabel namun bermanfaat bagi  keluarga dan bukan sebagai beban bagi keluarga.